Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini termasuk zoonosis, yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Tikus merupakan salah satu hewan yang sering berperan sebagai sumber penularan.
Bakteri Leptospira dapat keluar melalui urine hewan yang terinfeksi, kemudian mencemari air, tanah, lumpur, genangan, atau lingkungan yang lembap. Risiko penularan meningkat ketika seseorang melakukan kontak langsung dengan lingkungan yang sudah tercemar.
Bagaimana Leptospirosis Menular?
Penularan dapat terjadi ketika kulit, terutama yang memiliki luka atau lecet, bersentuhan dengan air, tanah, lumpur, atau lingkungan yang terkontaminasi bakteri Leptospira.
Bakteri juga dapat masuk melalui selaput lendir seperti mata, hidung, atau mulut.
Risiko dapat meningkat pada orang yang sering beraktivitas di lingkungan basah atau kotor, seperti selokan, sawah, kebun, genangan air, maupun lokasi yang banyak ditemukan tikus.
Kenali Gejala Leptospirosis
Gejala leptospirosis dapat berbeda pada setiap orang. Pada tahap awal, keluhan yang muncul dapat menyerupai penyakit infeksi lainnya.
Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:
- Demam tinggi;
- Sakit kepala;
- Tubuh terasa lemah;
- Nyeri otot, terutama pada bagian betis;
- Kesulitan berjalan akibat nyeri otot;
- Mata tampak kemerahan;
- Mual atau keluhan saluran pencernaan.
Pada sebagian kasus, leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat dan menyebabkan gangguan pada berbagai organ tubuh.
Waspadai Gejala Berat
Leptospirosis yang tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan komplikasi serius. Beberapa tanda yang perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis antara lain:
- Mata atau kulit menjadi kekuningan;
- Gangguan fungsi ginjal;
- Gangguan fungsi hati;
- Gangguan paru-paru;
- Perdarahan;
- Penurunan kondisi tubuh secara cepat.
Leptospirosis berat dapat mengancam nyawa. Karena itu, jangan menunda pemeriksaan apabila mengalami demam atau keluhan lain setelah berkontak dengan genangan air, lumpur, banjir, selokan, atau lingkungan yang berisiko tercemar urine tikus.
Yuk Cegah Leptospirosis
Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta mengurangi kontak langsung dengan sumber penularan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Cuci tangan dan kaki setelah beraktivitas
Gunakan sabun dan air bersih setelah bekerja atau beraktivitas di sawah, kebun, selokan, area banjir, atau tempat lain yang basah dan kotor.
2. Gunakan alas kaki pelindung
Gunakan sepatu bot atau alas kaki yang sesuai ketika harus memasuki daerah berlumpur, tergenang, atau berisiko tercemar.
3. Tutup luka dengan baik
Jika terdapat luka atau lecet pada kulit, tutup menggunakan perban kedap air sebelum melakukan aktivitas di lingkungan berisiko.
4. Jaga makanan dan minuman dari tikus
Simpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup agar tidak mudah dijangkau atau tercemar oleh tikus.
5. Kelola sampah dan penampungan air dengan baik
Gunakan tempat sampah yang tertutup dan jaga penampungan air tetap bersih serta tertutup rapat.
6. Jaga kebersihan lingkungan
Bersihkan lingkungan rumah secara rutin dan hindari penumpukan sampah yang dapat menjadi tempat berkembang biak tikus.
7. Lakukan pengendalian tikus
Kurangi populasi tikus di lingkungan dengan menjaga sanitasi, menutup akses masuk ke rumah, dan melakukan pengendalian secara aman.
Jangan Menunda Pemeriksaan
Leptospirosis dapat disembuhkan apabila dikenali dan ditangani lebih awal. Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami demam, nyeri otot, mata merah, tubuh lemah, atau gejala lain setelah terpapar lingkungan yang berisiko.
Pemeriksaan sejak dini membantu tenaga kesehatan menentukan penanganan yang tepat dan mengurangi risiko terjadinya komplikasi.
Mari bersama-sama menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Cegah leptospirosis mulai dari rumah, lindungi diri dari paparan, dan segera periksa jika mengalami gejala yang mencurigakan.